Quran Surat Muhammad Ayat 7 & As-Shaf Ayat 4

Quran Surat Muhammad Ayat 7

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." 

 
Quran Surat As-Shaf Ayat 4

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيَانٌ مَّرْصُوصٌ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."

MUTIARA HIKMAH DI PERMULAAN DA'WAH


بسم الله الرحمن الرحيم

MUTIARA HIKMAH DI PERMULAAN DA'WAH
Oleh : Masyhudi Abdullah Al-Kendaly

MASA PERIODE DA'WAH
Masa periode da'wah ini, dimulai dari gua hiro'
Hakikat dan pengaruh yang kuat dan nyata dari perintah berdakwah, adalah sebagai berikut :
1.     Pemberian peringatan yang menjadikan siapa saja yang mendapatkan dan menyalahinya pasti akan mendatangkan kegelisahan dan ketakutan di dalam hatinya.
2.     Tujuan mengagungkan Robb, sehingga siapa yang meyombongkan dirinya di dunia tidak dibiarkan begitu saja melainkan pasti akan dipunahkan.
3.     Membersihkan pakaian dan meninggalkan dosa bisa menyebabkan kesempurnaan lahir batinnya jadi bersih dan menjadi sosok paling ideal ditengah-tengah masyarakat, mengundang pesona semua hati dan decak kagum.
4.     Larang dari mengharap dari yang lebih banyak dari apa yang diberikan agar tidak menganggap perbuatan dan usahanya adalah hebat.
5.     Dalam ayat diisyarat akan adanya gangguan, siksaan dan ejekan  yang bakal dilancarkan oleh orang musyrik dan harus dihadapi dengan kesabaran, agar mendapatkan ridlo dari Allah.[1]
Orang yang masuk islam dari tangan Abu Bakar yaitu Usman Bin Affan Al-Umawi, Zubair Bin Awwam, Abdurrahman Bin Auf, Saad Bin Abi Waqqash dan Thalhah Bin Ubaidillah. Mereka dan yang lain-lainnya masuk islam secara sembunyi-sembunyi. Rosulullah mengajarkan islam secara kucing-kucingan dan perorangan. Dan dengan diturunkan ayat secara berkala, dengan bahasa yang indah membawa orang mukmin kedunia lain tidak seperti dunia yang ada pada saat itu.[2]
Ibnu Hisam menyebutkan, bahwa jika tiba waktu shalat, Nabi dan para sahabat pergi ketempat yang terpencil lalu secara sembunyi-sembunyi mengerjakan shalat agar tidak dilihat kaumnya.[3].
Namun lama-kelamaan orang Quraisy megetahui juga dakwah tersebut namun mereka tidak ambil peduli, sebab mereka mengira bahwa Muhammad hanya salah seorang di antara mereka yang peduli terhadap urusan agama, yang suka berbicara masalah ketuhanan dan hak-hak nya seperti yang biasa dilakukan Umayah Bin Ash-Shallat, Qus Bin Sa'idah, Amar Bin Nufail dan yang lainnya.
Selama tiga tahun dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Selama jangka waktu itu telah terbentuk sekelompok orang-orang mu'min yang senantiasa menguatkan hubungan persaudaraan dan saling bahu-membahu. Penyampaian dakwah terus dilakukan, hingga turun wahyu yang mengharuskan rosulullah menampakkan dakwah kepada kaumnya, menjelaskan kebatilan mereka dan meyerang berhala-berhala sesembahan mereka.[4]
Dakwah nabi secara rahasia adalah untuk menghindari tindakan buruk orang Quraisy yang fanatik dengan kemusrikan dan paganismenya. Dan nabi tidak menampakkan dakwah kecuali pada orang yang memiliki  hubungan kerabat atau kenal baik sebelumnya.
Ketika orang-orang yang menganut islam lebih dari tiga puluh orang, laki-laki dan wanita, rosul memilih rumah salah seorang dari mereka dari mereka, yaitu rumah Arqom Bin Abil Arqom sebagi tempat pertama untuk mengadakan pengajaran dan pembinaan. Dakwah pada tahap ini menghasilkan sekitar 40 laki-laki dan perempuan. Kebanyakan mereka adalah orang-orang fakir, para budak dan orang quraisy yang tidak memiliki kedudukan.[5]



IBROH-IBROH DARI MASA ITU:
1.           Dakwah yang dilakukan secara rahasia dilakukan bukan karena rosul takut akan keadaan dirinya tetapi agar tidak menyampaikan dakwah kecuali pada orang yang telah diyakini akan menerimanya. Ini juga sebagai pelajaran dan bimbingan bagi para dai sesudahnya agar melakukan perencanaan secara cermat dan mempersiapkan sarana-sarana yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran dan tujuan dakwah.[6]
     Jumhur fuqoha' berkata : jika jumlah kaum muslimin sedikit dan lemah posisinya, sehingga diduga keras mereka akan dibunuh oleh para musuh-musuhnya. Maka menjaga kemaslahatan jiwa dan meyelamatkan jiwa didahulukan karena karena  kemaslahatan menjaga agama belum dapat dipastikan.[7]
2.           Hikmah daripada masuk islamnya dari kalangan yang lemah. Fenomena ini merupakan hasil alamiyah dari dakwah para nabi pada tahapan yang pertama. Seperti kaum Nuh, Fir'aun dan kaumnya, juga kaum Tsamud. Sehingga reaksi dari penolakan terhadap ajakan untuk berserah diri pada Allah semata datang terutama dengan orang-orang yang mengaku berdaulat ( mengaku punya kekuasaan / tuhan ). Sementara orang yang tertindas menyambut dengan baik. Sebagaimana yang bisa kita lihat dari kisah utusan kaum muslimin yang mendatangi istana Kisra, pada Raja Rustum yang sangat sombong. Hal itu terjadi pada perang Qodisiah. Maka ketika terjadi dialog antara utusan dari kaum muslimin dan didengarkan oleh kalangan budak, tentang perihal dari maksud kedatangan kaum muslimin, maka kaum budak dan bawahan dari mereka meyambut gembira dan kaum bangsawan merasa kebakaran jenggotnya. Sampai kaum rendahan diantara mereka berkomentar, " demi Allah, orang arab ini benar, tetapi bagi para petingginya bagaikan disambar gledek dan berkomentar, " dia telah mengatakan ucapan yang senantiasa dirindukan oleh para budak kita.[8].
3.           Syaik Munir Al-Ghodban berkata bahwa dia tidak sependapat jika gerakan islam sekarang harus menempuh gerakan sirriyah selama 3 tahun karena tidak adanya nash yang memerintahkannya. Jadi rentang waktu bukan suatu yang penting tapi hasil operasional dakwah dan kemampuan untuk menghadapi masyarakat yang ada, para pendukung, tokoh-tokoh dan lembaga-lembaga. Dan bahkan adanya beban dakwah terang-terangan, dimulai setelah adanya jaminan perlindungan dari Allah dan Rosulnya. Jadi bagi para pemimpin gerakan islam bertanggung jawab menilai kapan dakwah harus beralih ke tahapan selanjutnya.[9]
4.           Dakwah melalui intelektualitas dari status sosialnya. Karena Abu Bakar As-Siddik sebagai dai yang paling berpengaruh waktu itu dengan dilihat dari banyaknya manusia yang masuk islam lewat dakwah beliau. Hal ini bisa dianalisa bahwa sebagai berikut :
¨                  Ahlaqnya, "yang akrab dengan kaumnya, dicintai dan disayangi."
          Ahlaq merupakan senjata ampuh untuk menarik orang lain, kunci pembuka katup hati, walau bagaimanapun kerasnya. Ahlak jugalah yang menjauhkan para dai dari reaksi saat timbul sikap negatif terhadap dakwah.
¨                  Pengetahuan, "dia adalah orang quraisy yang paling mengerti dan tahu           tentang nasab suku quraisy dan masalah kebaikan-kebaikan dan           keburukan-keburukan pada suku ini."
          Dan ini tidak kalah penting dengan ahlaq yang sudah kami paparkan. Tuntutannya adalah bukan segala macam pengetahuan, tetapi yang pokok adalah pengetahuan tentang masyarakat dan kecenderungan-kecenderungannya, karakteristik jiwa manusia dan hal inilah yang menjadi pintu masuk kedalam hati mad'u ( obyek ) dakwah.
          Setiap hati punya gembok dan dai harus punya kuncinya dan bisa memasukinya dari arah yang tepat dan sesuai arahnya.
¨                  Pekerjaan dan status sosial, "dia adalah pedagang yang berahlaq mulia,          sering didatangi oleh tokoh kaum untuk dimintai pendapat mengenai      banyak hal."
          Status ini menjadikan beliau didengar, terbebas dari meminta-minta dan menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Juga memberi prestise ditengah masyarkat yang nilai tertingginya adalah harta dan popularitas. Dan ini juga yang menyebabkan hubungan pada manusia nampak lebih wajar dan tidak dipaksakan. Karena terbebas dari mencari faktor lain untuk berhubungan dengan mereka. Seorang guru atau pedagang akan lebih mampu untuk bergerak dibanding dengan halnya pegawai yang terikat dengan pada suatu struktur tertentu[10].
5.           Dakwah pada kalangan tertentu bukan berarti membatasi dakwah pada kelompok tertentu. Tetapi penjangkauan dilakukan melalui orang-orang tertentu dengan hasil yang telah dicapai adalah ter'rekrutnya semua lapisan masyarakat pada saat itu. Bisa dilihat dari berbagai kalangan yaitu orang yang merdeka, kaum budak, lelaki, wanita, anak-anak dan orang dewasa. Juga berbagai suku yang ada di Makkah pada waktu itu. Sehingga tidak ada keluarga  di Makkah kecuali satu atau dua orang angotanya ikut serta dalam membangun masyarakat. Daftar  kelompok perincian sahabat dan asal kaumnya bisa dilihat pada kitab Manhaj Haraki, edisi indonesia juz 1 hal 7-9.
6.           Wanita pada waktu itu jumlahnya mencapai 1/4 dari kaum muslimin. Maka dari itu layaknya bagi para aktifis untuk selalu memperhatikan para istrinya, anak perempuannya, atau saudarinya guna membantu dalam kelancaran dakwah.[11]
7.           Pengetahuan tentang sebagian 'fenomena aneh' ini tidak menimbulkan kemarahan selama orang-orang tersebut mencukupkan diri sendiri dan kalangan mereka sendiri. Terserah apa yang dikehendaki selama berupa akidah dan hanya dihati,  dan ibadah yang dilakukan dimasjid dan tidak mencampuri urusan kehidupan.
  Jadi bisa dipahami 'sikap damai' yang kadang ditunjukkan pemerintah jahiliyah jika islam  hanya dijadikan akidah ( keyakinan ) dan ibadah dimasjid saja, kalau tidak dimasukkan kedalam kancah kehidupan tidak usah ditakuti karena…….?!?


الحمد لله رب العا لمين


والله أ علم بالصو لب



Referensi :
¨      Syaikh Shafiyur-Rahman Al-Mubarokfuri, Rahikul Mahtum, Cet 16, Jul 2004, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.
¨      Dr. Muhammad Sa'id Ramadlan Al-Buthi, Fiqus-Siroh, Cet 6, 1999, Robbani Press, Jakarta.
¨      Syaikh Munir Al-Ghadban, Manhaj Haraki I, Cet 2, Rajab 1413 H-Jan 1993 Robbani Press, Jakarta.


[1]  Rahiqul-Mahtum, Hal 97-98.
[2]  Ibid, Hal 104-105.
[3]  Sirah Ibnu Hisam, Hal 1/2477.
[4]  Rahiqul-Mahtum, Hal 106.
[5]  Fiqih Siroh, Hal 66, Seperti Dinukil Pengarang Dari Kitab Siroh Ibnu Hisam 1/249-261.
[6]   Ibid, Hal 67, Hal Ini Dinamakan Siyasah Syar'iyyah ( Politik Syari'ah ).
[7]   Fiqus Siroh, Hal 68.
[8]   Ibid, Hal 70, Juga Merupakan Nukilan Dari Kitab Itmamul Wafa' Fi Sirotil Khulafa', Hal 100.
[9]   Manhaj Haraki, Hal 3.
[10]  Ibid, Hal 6.
[11]  Ibid,  Hal 9.

WAHYU

Nuzul dan Syubhat Para Orientalis

Pengertian Wahyu
Wahyu adalah Isyarat yang cepat. Al Wahyu atau wahyu adalah kata masdar (infinitif); dan materi kata itu menunjukkan dua pengertian dasar yaitu : tersembunyi dan cepat. Oleh karena itu, maka dikatakan bahwa wahyu ialah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain.
Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi :
1.    Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa AS :
وأوحينا إلي إم موسى أن أرضعيه
"Dan Kami ilhamkan kepada Ibu Musa, "Susuilah dia.." QS. Al Qashshash : 7
2.    Ilham yang berupa naluri binatang, seperti wahyu kepada lebah :
وأوحي ربك إلى النحل أن اتخذى من الجبال بيوتا ومن الشجر ومما يعرشون
"Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, "Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di rumah-rumah yang didirikan manusia." QS. An Nahl : 68.
3.    Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Al Qur'an :
فخرج على قومه من المحراب فأوحى إليهم أن سبحوا بكرة وعشيا
"Maka keluarlah dia dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka." QS. Maryam : 11.
4.    Bisikan dan tipu daya setan untuk menjadikan yang buruk terlihat indah dalam diri manusia.
وإن الشياطين ليوحون إلى أوليا ئهم ليجادلوكم
"Sesungguhnya setan-setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu." QS. Al An'am : 121
5.    Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatNya berupa suatu
إذ يوحى ربك إلى الملائكة أنى معكم فثبتوا الذين امنوا
"Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman." QS. Al Anfal : 12.
Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalatut Tauhid sebagai "Pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah, baik melalui perantara ataupun tidak; yang pertama melalui suara terjelma dalam telinganya atau tanpa suara sama sekali.
Definisi di atas adalah definisi wahyu dengan pengertian masdar. Bagian awal definisi ini mengesankan adanya kemiripan antara wahyu dengan suara hati atau kasyf tetapi pembedaannya dengan ilham di akhir definisi meniadakan hal itu.[1]

Awal Turunnya


Tingkatan-Tingkatan Wahyu
Ibnul Qayyim menyebut tentang tingkatan wahyu :
1.    Mimpi yang benar. Tingkatan ini merupakan asas bagi wahyu yang diterima oleh Rasulullah SAW.
2.    Wahyu yang dibisikkan oleh malaikat ke dalam hati beliau tanpa terlihat oleh beliau, sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi SAW, "Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwasanya seseorang tidak akan mati sebelum diberikan semua rezekinya. Maka, bertaqwalah kepada Allah dan baguskanlah pencarian kamu. Terlambatnya rezeki jangan sampai membuat kami mencarinya dengan cara maksiat, sebab apa yang ada di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepadaNya."
3.    Malaikat datang kepada Rasulullah SAW dalam wujud seorang lelaki, lalu berbicara kepada beliau sampai beliau memahami apa yang disampaikannya. Dalam keadaan seperti ini malaikat terkadang dilihat oleh para sahabat.
4.    Jibril datang kepada beliau seperti bunyi lonceng. Tingkatan wahyu seperti ini merupakan tingkat yang terberat bagi beliau, sebab Jibril merasuk ke dalam tubuh beliau. Sehingga dahi beliau mencucurkan keringat walaupun udara dalam keadaan sangat dingin. Jika hal itu terjadi ketika beliau sedang mengendarai onta, maka ontanya berlutut. Suatu ketika, wahyupernah datang dalam bentuk seperti itu, yakni di saat beliau sedang menumpangkan pahanya di atas paha Zaid bin Tsabit. Demikian beratnya dirasakan oleh Zaid sehingga tulang pahanya serasa hancur.
5.    Rasulullah SAW melihat Jibril dalam bentuk aslinya, lalu Jibril mewahyukan kepada beliau apa saja yang dikehendaki oleh Allah untuk disampaikan kepada beliau. Hal ini terjadi dua kali sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam surat An Najm.
6.    Wahyu yang disampaikan oleh Allah kepada beliau, ketika beliau berada di atas langit, pada malam mi'raj, seperti tentang kewajiban shalat dan lain-lain.
7.    Firman Allah kepada beliau tanpa perantara malaikat sebagaimana Allah berbicara kepada Musa bin Imran. Tingkatan seperti ini telah terjadi pada diri Musa berdasarkan nash Al Qur'an dan terjadi pula pada diri Nabi SAW berdasarkan hadits Isra'.
Sebagian mereka menambahkan tingkatan yang kedelapan, yaitu Allah berbicara kepada beliau tanpa hijab. Masalah ini merupakan masalah yang diperselisihkan di kalangan Ulama Salaf maupun Khalaf. Pendapat yang benar adalah bahwa tingkatan kedelapan ini tidak terjadi.[2]

Kaifiyah Nuzulnya Al Qur'an
Cara wahyu Allah turun kepada Malaikat
1.    Di dalam Al Qur'an terdapat ayat yang menunjukkan bahwa Allah berbicara kepada para malaikat tanpa perantara dan dengan pembicaraan yang dipahami oleh para malaikat itu.
إذ يوحى ربك إلى الملائكة أنى معكم فثبتوا الذين امنوا
"Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman." QS. Al Anfal : 12.
Terdapat hadits riwayat Thabrani menjelaskan bagaimana wahyu turun. Pertama Allah berbicara dan para malaikat mendengarkannya. Dan pengaruh wahyu itu pun sangat dahsyat.
2.    Telah nyata pula bahwa Al Qur'an telah dituliskan di Lauhul Mahfudz. Berdasarkan firman Allah :
بل هو قرأن مجيد فى لوح محفوظ
"Bahkan ia adalah Al Qur'an yang mulia yang tersimpan di Lauhul mahfudz." QS. Al Buruj : 22.
Demikian pula bahwa Al Qur'an itu diturunkan sekaligus ke Baitul 'Izzah yang berada di langit dunia pada malam lailatul qadar di bulan Ramadhan.
شهر رمضان الذى أنزل فيه القرأن
"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an." QS. Al Baqarah : 185.

Para Ulama berbeda pendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Al Qur'an kepada Jibril dengan beberapa pendapat :
a.    Bahwa Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafadznya yang khusus.
b.    Bahwa Jibril menghafalnya dari Lauhul Mahfudz.
c.    Bahwa maknanya disampaikan Jibril, sedang lafadnya adalah lafadz Jibril atau lafadz Muhammad SAW.
Pendapat pertama itulah yang benar dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh Ahlussunnah wal Jama'ah, serta diperkuat oleh hadits Nawas bin Sam'an. Al Qur'an adalah kalam Allah dengan lafadznya, bukan lafadz Jibril atau kalam Muhammad SAW. Sedang pendapat kedua tidak dapat dijadikan pegangan, sebab adanya Al Qur'an di Lauhul Mahfudz itu seperti hal-hal ghaib yang lain termasuk Al Qur'an.

Cara wahyu Allah turun kepada Para Rasul
Allah memberikan wahyu kepada para RasulNya ada yang melalui perantaraan dan ada yang tidak melalui perantaraan.
Yang pertama  : Melalui Jibril, malaikat pembawa wahyu.
Yang kedua    : Tanpa melalui perantaraan, diantaranya ialah mompi yang benar dalam tidur.
a.    Mimpi yang benar di dalam tidur.
عن عائشة رضى الله عنها قالت أول ما بدئ به النبي صلى الله عليه و سلم الرؤيا الصالحة فى النوم فكان لا يرى رؤيا إلا جاءت مثل فلق الصبح
"Dari 'Aisyah RA dia berkata, "Sesungguhnya apa yang mul-mula terjadi bagi Rasulullah SAW adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya pagi hari." Muttafaq 'Alaihi.
Diantara alasan yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para Nabi adalah wahyu yang wajib diikuti, ialah mimpi Nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya, Ismail.
b.    Yang lain adalah kalam Ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara. Yang demikian itu terjadi pada Musa AS.
ولما جاء موسى لميقاتنا وكلمه ربه قال رب أرنى أنظر إليك
"Dan tatkala Musa datang untuk munajat dengan Kami di waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, Musa berkata, "Wahai Tuhan, tampakkanlah diriMu kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." Al A'raf : 143.

Cara Penyampaian wahyu oleh Malaikat kepada Rasul
Ada dua cara penyampaian wahyu oleh Malaikat kepada Rasul :
Cara pertama : Datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara amat kuat yang mempengaruhifaktor-faktor kesadaran, sehinga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini paling berat buat Rasul. Apabila wahyu yang turun kepada Rasulullah SAW dengan cara ini, maka ia mengumpulkan segala kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Dan suara itu mungkin sekali suara kepakan sayap-sayap para Malaikat, seperti diisyaratkan di dalam hadits, "Apabila Allah menghendaki suatu urusan di langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada firmanNya, bagaikan gemerincingnya mata rantai di atas batu-batu yang licin." HR. Bukhari. Dan mungkin pula suar Malaikat itu sendiri pada waktu Rasul baru mendengarnya untuk pertama kali.
Cara kedua : Malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara yang demikian itu lebih ringan daripada cara sebelumnya, karena adanya kesesuaian antara pembicara dengan pendengar. Rasul merasa senang sekali mendengarkan dari utusan pembawa wahyu itu, karena merasa seperti seorang manusia yang berhadapan dengan saudaranya sendiri.
Tentang hal ini terdapat riwayat dari 'Aisyah Ummul Mukminin RA, bahwa Harits bin Hisyam RA bertanya kepad Rasulullah SAW tentang turunnya wahyu, dan jawab Nabi, "Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi dan aku telah menyadari apa yang dikatakannya. Dan terkadang Malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku dan aku pun memahami apa yang dia katakan."
'Aisyah juga meriwayatkan apa yang dialami Rasulullah berupa kepayahan, "Aku pernah melihatnya tatkala wahyu sedang turun kepadanya pada suatu hari yang amat dingin. Lalu Malaikat itu pergi, sedang keringat pun mengucur dari dahi Rasulullah." HR. Bukhari.[3]

Keraguan Orang-Orang Yang Ingkar Terhadap Wahyu
SIRAH NABAWIYAH ALBUTHI, HLM. 57.
Hadits permulaan wahyu ini merupakan asas yang menentukan semua hakikat agama dengan segala keyakinan dan syari'atnya. Memahami dan meyakini kebenarannya merupakan persyaratan mutlak untuk meyakini semua berita ghaib dan masalah syari'at yang dibawa oleh Nabi SAW. Sebab hakikat wahyu ini merupakan satu-satunya faktor pembeda antara manusia yang berpikir dan membuat syari'at dengan akalnya sendiri, dan manusia yang hanya menyampaikan (syari'at) dari Rabbnya tanpa mengubah, mengurangi atau menambah.
Itulah sebabnya, maka para musuh Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap fenomena wahyu dalam kehidupan Nabi SAW. Berbagai argumentasi mereka kerahkan untuk menolak kebenaran wahyu dan membiaskannya dengan ilham (inspirasi) dan bahkan dengan sakit ayan. Ini karena mereka menyadari bahwa masalah wahyu merupakan sumber keyakinan dan keimanan kaum Muslim kepada apa yang dibawa oleh Muhammad SAW dari Allah. Jika mereka berhasil meragukan kebenaran wahyu, maka mereka akan menolak segala bentuk keyakinan dan hukumn yang bersumber dari wahyu tersebut. Selanjutnya mereka akan berhasil mengembangkan permikiran bahwa semua prinsip dan hukum syari'at yang diserukan Muhammad SAW hanyalah bersumber dari pemikiran sendiri.
Untuk merealisasikan tujuan ini, para musuh Islam tersebut berusaha menafsirkan fenomena wahyu dengan berbagai penafsiran palsu. Mereka memberikan aneka penafsiran palsu sesuai dengan seni imajinasi yang mereka rajut sendiri. Debagian menggambarkan bahwa Muhammad SAW terus merenung dan berpikir sampai terbentuk di dalam benaknya, secara berangsur-angsur, suatu aqisah yang dipandangnya cukup untuk menghancurkan paganisme (Watsaniyah). Ada pula yang mengatakan bahwa Muhammad SAW belajar Al Qur'an dan prinsip-prinsip Islam dari pendeta Bahira. Bahkan ada yang menuduh Muhammad SAW adalah orang yang berpenyakit syaraf atau ayan.
Bila kita perhatikan tuduhan-tuduhan naif seperti ini, maka akan kita ketahui dengan jelas rahasia Ilahi mengapa permulaan turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW dengan cara yang telah kami sebutkan dalam hadits Bukhari di atas.
Mengapa Rasulullah SAW melihat Jibril dengan kedua mata kepalanya untuk pertama kali, padahal wahyu bisa diturunkan dari balik tabir?
Mengapa Rasulullah SAW takut dan terkejut memahami kebenarannya, padahal cinta Allah kepada Rasulullah SAW dan pemeliharaanNya kepadanya semestinya cukup untuk memberikan ketenangan di hatinya sebingga tidak timbul rasa takut lagi?
Mengapa Rasulullah SAW khawatir terhadap dirinya kalau-kalau yang dilihatnya di gua Hira' itu adalah makhluk halus dari Jin?
Mengapa Rasulullah SAW tidak memperkirakan bahwa itu adalah makhluk utusan Allah?
Mengapa setelah itu wahyu terputus sekian lama sehingga menimbulkan kesedihan yang mendalam pada diri Nabi SAW sampai timbul keinginan untuk menjatuhkan diri dari atas gunung?
Pertanyaan-pertanyaan ini wajar dan alamiah sesuai dengan bentuk permulaan wahyu tersebut. Dari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, kelak akan terungkap suatu kebenaran yang dapat menghindarkan setiap orang yang berpikiran sehat dari perangkap para musuh Islam dan pengaruh rajutan imajinasi palsu mereka.

Bantahannya
Ketika sedang tenggelam dalam khalwatnya di gua Hira', Rasulullah SAW dikejutkan oleh Jibril yang muncul dan terlihat di hadapannya seraya berkata kepadanya, "Bacalah" Hal ini menjelaskan bahwa fenomena wahyu bukanlah urusan pribadi yang bersumber dari inspirasi atau intuisi. Tetapi merupakan penerimaan terhadap haqiqah khairiyah (kebenaran yang bersumber dari 'luar') yang tidak ada kaitannya dengan inspirasi, pancaran hati atau intuisi.
Timbulnya rasa takut dan cemas pada diri Nabi SAW ketika mendengar dan melihat Jibri, sampai beliau memutuskan khalwatnya dan segera pulang dengan hati gundah, merupakan suatu bukti nyata bagi orang yang berakal sehat bahwa Nabi SAW tidak pernah sama sekali merindukan risalah yang dibebankanNya untuk disebarkannya ke segenap penjuru dunia ini.
Selain itu, masalah inspirasi, intuisi, bisikan batin atau perenungan ke alam atas, tidak mengundang timbulnya rasa takut dan cemas. Tidak ada korelasi antara perenungan dan perasaan takut dan terkejut. Jika demikian, tentu semua pemikir dan orang yang melakukan kontemplasi akan selalu dirundung rasa takut dan cemas.
Anda tentu mengetahui bahwa perasaan takut, terkejut dan menggigil sekujur badan tidak mungkin dapat dibuat-buat. Sehingga jelas tidak dapat diterima jiak ada orang mengandalkan Rasulullah SAW melakukan tersebut.
Kemudian, ilham Allah kepada Khadijah untuk membawa Nabi SAW menemui Waraqah bin Naufal menanyakan permasalahannya, merupakan penegasan lain bahwa yang mengejutkannya itu hanyalah wahyu yang pernah disampaikan kepada para Nabi sebelumnya. Di samping untuk menghapuskan kecemasan yang menyelubungi jiwa Rasulullah SAW karena menafsirkan apa yang dilihat dan didengarnya.
Terhentinya wahyu setelah itu selama enam bulan atau lebih, mengandung mu'jizat Ilahi yang mengagumkan. Karena hal ini merupakan sanggahan yang paling tepat terhadap para orientalis yang menganggap wahyu sebagai produk perenungan panjang yang bersumber dari dalam diri Muhammad SAW.
Sesungguhnya keadaan dan peristiwa yang dialami oleh Nabi SAW ini membuat pemikiran yang mengatakan bahwa wahyu merupakan intuisi, sebagai suatu pemikiran gila. Sebab, untuk menumbuhkan inspirasi dan intuisi tidak perlu menjalani keadaan seperti itu.
Dengan demikian, hadits permulaan wahyu yang tersebut dalam riwayat shahih merupakan senjata yang menghancurkan segala serangan musuh-musuh Islam menyangkut masalah wahyu dan kenabian Muhammad SAW. Dari sini kita dapat memahami mengapa permulaan penurunan wahyu dilakukan Allah sedemikian rupa.

Orang-orang Jahiliyah baik lama ataupun yang modern selalu berusaha utnuk untuk menimbulkan keraguan mengenai wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong. Keraguan demikian itu lemah sekali dan tidak dapat diterima.
1.    Mereka mengira bahwa Al Qur'an dari pribadi Muhammad; dengan menciptakan maknanya dan dia sendiri pula yang menyusun "bentuk gaya bahasanya"; Al Qur'an bukanlah wahyu. Ini adalah sangkaan batil. Apabila Rasulullah SAW menghendaki kekuasaan untuk dirinya sendiri dan menantang manusia dengan mukjizat-mukjizat untuk mendukung kekuasaan dirinya, tidak perlu ia menisbatkan semua itu kepada pihak lain. Dapat saja menisbatkan Al Qur'an kepada dirinya sendiri, karena hal itu cukup untuk mengangkat kedudukannya dan menjadi manusia tunduk kepada kekuasaannya. Sebab kenyataannya semua orang Arab dengan segala kefasihan dan retorikanya tidak juga mampu menjawab tantangan itu. Sangkaan ini menggambarkan bahwa Rasulullah SAW termasuk pemimpin yang menempuh cara-cara berdusta dan palsu untuk mencapai tujuan. Sangkaan itu tertolak oleh kenyataan sejarah tentang perilaku Rasulullah SAW, kejujuran dan keterpercayaannya yang terkenal, yang sudah disaksikan oleh musuh-musuhnya sebelum disaksikan oleh kawan-kawan sendiri.

2.    Orang-orang Jahiliyah, dahulu dan sekarang, menyangka bahwa Rasulullah SAW mempunyai ketajaman firasat, kecerdikan yang hebat, kejernihan jiwa dan renungan yang benar, yang menjadikannya memahami ukuran-ukuran yang baik dan yang buruk, benar dan salah melalui Ilham (inspirasi), serta mengenali perkara-perkara yang rumit melalui kasyaf, sehingga Al Qur'an itu tidak lain daripada hasil penalaran intelektual dan pemahaman yang diungkapkan oleh Muhammad dengan gaya bahasa dan retorikanya.[4]










Kesesatan Ahli Ilmu Kalam
Para ahli Ilmu Kalam telah tenggelam dalam cara-cara para filsuf dalam menjelaskan kalam Allah sehingga mereka telah sesat dan menyesatkan orang lain dari jalan yang lurus. Mereka membagi kalam Allah menjadi dua bagian : Kalam Nafsi yang kekal yang ada pada dzat Allah, yang tidak berupa huruf, suara, tertib dan tidak pula bahasa; dan kalam lafdzi (verbal), yaitu yang diturunkan kepada para Nabi AS yang diantaranya adalah empat buah kitab. Para ahli Ilmu Kalam ini semakin tenggelam dalam perselisihan skolastik yang mereka adakan : Apakah Al Qur'an dalam pengertian kalam lafdzi, makhluk atau bukan? Mereka memperkuat pendapat bahwa Al Qur'an dalam pengertian kalam lafdzi di atas adalah makhluk. Dengan demikian, mereka telah keluar dari jalan para mujtahid dahulu dalam hal yang tidak ada nashnya dalam Kitab dan Sunah. Mereka juga menggarap sifat-sifat Allah dengan analisis filosofis yang hanya menimbulkan keraguan dalam aqidah Tauhid.
Sedang madzhab ahlu Sunah wal Jama'ah menentukan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang sudah ditetapkan oleh Allah atau ditetapkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang datang dari Nabi. Bagi kita sudah cukup dengan beriman bahwa kalam itu adalah salah satu sifat diantara sekian sifat Allah.







Kemudian berlanjutnya wahyu setelah itu menunjukkan kebenaran wahyu dan bukan seperti yang dikatakan oleh musuh-musuh Islam sebagai fenomena kejiwaan. Ini dapat dibuktikan dengan beberapa hal berikut :
1.    Perbedaan yang jelas antara Al Qur'an dan Al Hadits. Nabi SAW memerintahkan para sahabatnya agar mencatat Al Qur'an segera setelah diturunkan. Sementara untuk hadits, Nabi SAW hanya memerintahkan agar dihapal saja. Bukan karena hadits itu sebagai perkataan dari dirinya sendiri yang tidak ada kaitannya dengan kenabian, tetapi karena Al Qur'an itu diwahyukan kepadanya dengan makna dan lafadznya dari Rasulullah. Nabi SAW sering memperingatkan para sahabatnya agar jangan sampai mencampur-adukkan kalam Allah dengan sabdanya.
2.    Nabi SAW sering ditanya tentang beberapa masalah, tetapi beliau tidak langsung menjawabnya.
3.    Rasulullah adalah seorang ummi. Tidak mungkin orang seperti ini dapat mengetahui –melalui meditasi peristiwa- peristiwa sejarah, seperti kisah Yusuf, Ibu Musa ketika menghanyutkan anaknya di sungai, kisah Fir'aun dan lainnya.
4.    Kejujuran Nabi SAW selama empat puluh tahun bergaul bersama kaumnya sehingga dikenal di kalangan mereka sebagai orang yang jujur dan terpercaya, membuat kita yakin akan kejujurannya terhadap fenomena wahyu. Pasti Nabi telah berhasil mengusir keraguan yang membayangi kedua matanya atau pikirannya.


[1] Mabahits Fi Ulumul Qur'an, Manna' Qathan, hlm. 30
[2] Zaadul Ma'ad, I : 18, Hadzal Habib, Abu Bakar Jabir Al Jazairi, hlm. 76.
[3] Mabahits Fi Ulumul Qur'an, Manna' Qathan, hlm. 30
[4] Mabahits Fi Ulumul Qur'an, Manna' Qathan, hlm. 30