[KULTUM] REZEKI DAN AJAL MANUSIA

Takwa dan pekerjaan yang halal Dalam hadits tersebut terdapat dua maslahat yang diperintahkan untuk dicari yaitu maslahat dunia dan maslahat akhirat. Maslahat dunia dengan pekerjaan yang halal, maslahat akhirat dengan takwa.



Assalamualaikum, wr, wb.

Puja dan puji syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT. Atas nikmat iman, Islam, serta nikmat sehat, sehingga kita bisa melaksanakan sholat isya dan tarwih secara berjamaah Shalawat dan salam tidak lupa kita haturkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, keluarganya dan para sahabatnya serta kita semua yang taat mengikuti sunahnya, semoga kelak di yaumil qiamat kita semua mendapatkan syafaatnya , aamiin.

Perkenankan pada malam hari ini saya akan menyampaikan kultum dengan tema:          


  REZEKI DAN AJAL MANUSIA”


Jamaah Tarwih yang dimulyakan Alloh SWT.

Bila ajal telah tiba, rezeki berarti telah berakhir. Sebagaimana Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,

وَالخَلْقُ مَيِّتُوْنَ بِآجاَلِهِمْ عِنْدَ نَفَادِ أَرْزَاقِهِمْ وَانْقِطَاعِ آثَارِهِمْ

(WALKHOLQU MAYYITUUNA BIAJAALIHIM INDA NAFAADI ARZAAQIHIM WANQITHOO.I  ATSARIHIM)

Artinya : “Makhluk itu akan mati dan punya ajal masing-masing. Bila ajal tiba berarti rezekinya telah habis dan amalannya telah berakhir.”

Tidak mungkin lebih dan kurang dari ajal ,Setiap manusia itu punya ajal yang terbatas, yang tidak mungkin seseorang melebihinya dan tidak mungkin kurang darinya.

Dalam Qur’an Surat Al A’raf ayat 34  disebutkan,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

(WALIKULLI AMMATIN AJALUN, FAIDZAA JAA’A  AJALUHUM  LAA YASTA’ KHIRUUNA  SAA’AH , WAA YASTAQDIMUUNA)

Artinya : Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)

Sebagaimana juga firman Alloh dalam Surat An Nahel ayat 61 yang artinya “Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya.”

Juga didukung dengan hadits. Rezeki telah habis dan amalan telah usai, Jika rezeki telah habis dan amalan telah usai, berarti seseorang telah mati. Seseorang tidak mungkin mati sampai sempurna rezekinya, dan berakhir pula amalannya. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

(AYYUHAN NAASUT TAQULLOOHA WA’AJMILUU FIT THOLABI FAINNAN NAFSAN  LAN TAMUUTA KHATTA TASTAUFII RIZQOHAA WAIN ABTHOO’A ANHA FATTAQULLOOHA  WA’AJMILUU FIT THOLABI HUDUU MAAHALLA WADAUU MAA KHAROMA)

Artinya : “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.(HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan sahih oleh Syaikh Al Albani).

1.     Janganlah berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah. Jangan sampai kita berucap, “Rezeki yang halal, mengapa sulit sekali untuk datang?

2.     Jangan sampai engkau mencelakakan dirimu untuk sekedar meraih rezeki.

Takwa dan pekerjaan yang halal Dalam hadits tersebut terdapat dua maslahat yang diperintahkan untuk dicari yaitu maslahat dunia dan maslahat akhirat. Maslahat dunia dengan pekerjaan yang halal, maslahat akhirat dengan takwa.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan alasan kenapa dua hal itu digabungkan. Beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan antara maslahat dunia dan akhirat dalam hadits “Bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki.” Nikmat dan kelezatan akhirat bisa diraih dengan ketakwaan pada Allah. Ketenangan hati dan badan serta tidak rakus dan serakah pada dunia, dan tidak ada rasa capek dalam mengejar dunia, itu bisa diraih jika seseorang memperbagus dalam mencari rezeki. Oleh karenanya, siapa yang bertakwa pada Allah, maka ia akan mendapatkan kelezatan dan kenikmatan akhirat. Siapa yang menempuh jalan yang baik dalam mencari rezeki (ijmal fii tholab), maka akan lepas dari rasa penat dalam mengejar dunia. Hanyalah Allah yang memberikan pertolongan.”

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, apabila ada kekurangan dan kesalahan saya mohon dimaafkan. Akhirul kalam

Wassalamu alaikum warokhmatullohi wabarokaatuh.

No comments:

Post a Comment